KEDUNGHALANG BOGOR TEMPOE DOELOE


Sejarah tempat itu terus bergulir…sebuah tempat yang menjadi saksi bisu perubahan peradaban kota, dimana para pelakunya kini tinggal segelintir saja. Menerawang dan membayangkan tempat dimana dulu para peneliti tanaman karet dan coklat beristirahat…sebuah taman dengan kompleks bangunan tempat tinggalnya…dan kami menyebutnya Kedoenghalang Gununggede. Entah apa jadinya jika Thomas Karsten tidak meng-inisiasi adanya pembangunan kota pada masa itu,..ehhhmmm mungkin kompleks pemukiman ini tidak akan terbentuk. Tahun 1926 sampai 1930 masa pembangunan itu menjadi catatan penting awal tumbuhnya kawasan hunian ini. Dibangun untuk dijadikan rumah-rumah peneliti Belanda, pegawai pemerintah atau rumah bagi penguasa kolonial. Kedoenghalang memiliki suasana asri yang tak terbantahkan, masih bisa kami saksikan deretan pohon dan kicauan burung dipagi hari. Sungguh indah untuk dikenang. Bangunanannya kokoh, atap yang tersusun dari rangka kayu jati membuktikan kekuatan itu…kami biasa bercengkerama diatas atap rumah. Tidak heran jika masa itu kawasan ini merupakan kawasan elit, hal ini tercermin dari penamaan ruas jalan dengan nama-nama gunung. Dulu bermain bola disisi luar Jl Guntur menjadi keasyikan anak muda disini selain Sempur sebagaimana di Jl Pangrango. Termasuk bermain tennis di Jl Papandayan. Untuk hiburan gedung Sociteit di Jl Halimun nampak akrab bagi orang Belanda untuk mengadakan pesta dansa dengan iringan Biola. Pada sebuah tempat terbuka yang dikenal dengan nama Vontland dikenal juga dengan nama Plant zone dan sekarang orang menyebutnya Taman Kencana. Tempat dimana kami biasa beristirahat dan bersantai…deretan delman yang menunggu penumpang tampak mengusik dengan ringkikan kuda-kudanya. Dua gedung pusat pendidikan dan penelitian yang mengapit kawasan ini nampak kokoh mempertegas intelektualitas para penghuninya. Salah satunya gedung sekolah kehewanan atau FKH IPB (sekarang)..bahkan pameo yang berlaku saat itu untuk bisa jadi dokter hewan wajib bisa naik kuda. Masa kolonial banyak noni-noni Belanda yang menghabiskan waktu ditempat ini. Saat Jepang berkuasa (1942) mulailah babak keindahan dan keasrian itu berubah. Rumah-rumah disini menjadi sitaan mereka. Beberapa rumah menjadi penjara atau ruang tahanan tawanan jepang, umumnya wanita dan anak-anak Indo Belanda, salah satunya sebuah rumah di Jl Papandayan (Rumah Corrie). Kemudian masa kemerdekaan militer mengambil alih dan menguasai kawasan ini untuk dijadikan tempat tinggal para perwiranya. Lalu Gemeente mengambil alih untuk ditempati para pegawai kota praja. Saat itu pemerintah memiliki kebijakan untuk menyewakan rumah-rumah disini pada siapa yang mampu membayar. Dari sinilah proses hak milik dilakukan. Salah satunya kebijakan wajib membeli rumah bagi para penyewa..tak heran dari orang Belanda, Tionghoa, hingga orang lokal memiliki sejarah tinggal ditempat ini. Sampai tahun 1950 masih bisa kami nikmati keindahan itu. Kini masa itu telah terlewati kondisinya jauh berbeda. Pohon-pohon tak seramai dulu, tempat kami bercengkerama sudah tidak ada. Banyak diantara kami yang telah pergi…kami berganti tetangga, berganti suasana..dari 1930 hingga 2008 ini kawasan kedoenghalang tetap menyimpan cerita indah untuk dibagi. Dari kuda, delman, zundapp hingga bemo. Walaghara_Patih, sebagaimana penuturan Ibu Lily Muslihun, warga Jl Papandayan)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Sejarah Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s