BOGOR BAHEULA


Pada suatu masa ketika  wilayah ini memulai babak baru sebagai sebuah kota, masa itu kisahnya diawali dengan perpecahan dan kekacauan karena sebuah kepentingan. Dan masuknya Islam ke Jawa Barat  tahun1479 menandai awal babak ini.

Banten yang  mula-mulanya berada dalam kekuasaan Pajajaran melepaskan diri dan menyusun kekuatan untuk mengalahkan Pajajaran. Wilayah yang berada di daerah sempit, diapit sungai  Cisadane dan Ciliwung ini pada tahun 1482 telah memindahkan pusat kerajaan ke sebuah tempat (dari tempat semula di Galoe (Galuh)). Dan perpindahan ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Ditempat ini  Banten dibawah pimpinan Maulana Hasanudin menyerang dan menghancurkan Pajajaran pada tahun 1579. Hancur dan hilanglah sebuah ibu kota. Kota itu di kalahkan tapi tidak untuk dikuasai. Lama kelamaan wilayah ini berganti rupa menjadi hutan belantara.

Upaya mendiami kawasan ini dilakukan seabad kemudian, tepatnya September 1687. Saat itu Gubernur Jenderal Johannes Camphuys menugaskan Scipio (Sersan Belanda) dengan ditemani Letnan Tanuwijaya (orang Sunda dari Sumedang) untuk mencari keberadaan ibu kota Pakuan. Pencarian dilakukan sekaligus membuka hutan Pajajaran yang berkabut dan menjadi tempat harimau Jawa berdiam.  Bahkan dalam riwayatnya salah seorang anggota ekspedisi meninggal di terkam Harimau. Dalam perjalanannya ini mereka membangun daerah baru yang kemudian dinamakan Kampung Baru. Tahun 1690 G.J Camphuys memerintahkan pembuatan Peta Kampung Baru. Meletusnya Gunung Salak tahun 1699 mengakibatkan hutan belantara ini berubah menjadi lapangan luas dan terbuka, tanpa pohon-pohonan sama sekali. Dalam kondisi tersebut cikal bakal Kota Bogor ini hanya menyisakan semak belukar dan padang ilalang. Tahun 1701 Letnan Tanuwijaya ditunjuk sebagai kepala Kampung Baru. Masa itu Kampung baru yang dibangun Tanuwijaya di Bogor berlokasi di Parung Angsana. Penunjukan ini menandai dimulainya perkembangan administrasi wilayah ini.

Sejarah pun terus berlanjut, Agustus sampai september 1744, dalam lawatannya ke Kampung Baru Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff menaruh minat dan perhatian untuk mengembangkan wilayah ini sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan. Van Imhoff terpikat dengan topografi wilayah yang  landai dan beriklim sejuk karena berada di kaki Gunung Salak dan Gunung Gede. Selain itu lokasinya tidak   terlalu jauh dengan pusat pemerintahan di Batavia. Dia pun berencana membuat daerah tersebut menjadi tempat peristirahatan yang damai dan lepas dari keruwetan sehingga disebutlah Buitenzorg. Rumah peristirahatan tersebut dibangun dengan halaman depan yang terbuka, ditumbuhi rerumputan dan tanaman hias yang menghadap ke utara dan halaman belakang yang tertutup dengan tanaman tahunan tropis besar dan rindang menghadap ke selatan. Landskap rumah peristirahatan kemudian berdampak pada perkembangan selanjutnya kota Bogor.

Langkah lainnya Van Imhoff menggabung wilayah yang meliputi sembilan distrik  menjadi wilayah pemerintahan Regentschap. Buitenzorg dengan menunjuk Demang Wiranata sebagai kepala wilayah. Pada masa  Gubernur Jenderal Mossel tahun 1754 kepala wilayah Kampung Baru (Bupati) meminta ijin untuk memindahkan pusat pemerintahan di Sukahati atau sekarang dikenal dengan nama Empang. Sejak saat itu hingga 1872 Sukahati / Empang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor.

Pada masa G.J Herman Willem Daendels (1808) lembaran sejarah penting terjadi di Bogor. Dibangunnya De Groote Postweg (Jl Raya Pos) yang mengorbankan ribuan nyawa itu. Lintasan jalan ini di Bogor melalui Jl. Raya Cibinong, menuju Jl Ahmad Yani Sudirman , Ir H. Juanda (Groote Weg) kemudian menuju Jl. Surya Kencana (Handels Straat), akhirnya ke Tajur dan Cipanas.

Perubahan cukup besar terhadap Bogor terjadi dengan kehadiran Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles (1811). Raffles menjadikan rumah peristirahatan menjadi Istana resmi, sedang pemerintahan tetap berada di Batavia. Namun sebagian besar waktunya dihabiskan di Buitenzorg. Kala itu Bogor ditetapkan sebagai pusat administrasi keresidenan yang membawahi Kabupaten Bogor; Cianjur dan Sukabumi. Sejak saat itu Bogor mulai berkembang dengan ciri dan sifat kekotaan menuju predikat kota dengan fungsi dan status yang lebih tinggi.

Enam Juli 1835 menjadi peristiwa penting lainnya. Yaitu diberlakukannya wijkenstelsel , peraturan yang membagi zona permukiman. Orang Eropa yang disamakan haknya diberi izin membangun rumah di sebelah barat jalan raya (sekarang jalan Sudirman) mulai dari Witte Paal sampai sebelah selatan Kebun Raya dan Pakancilan. Orang Tionghoa diberi peruntukan lahan di daerah yang berbatasan dengan jalan raya sepanjang jalan Suryakencana sampai tanjakan Empang. Sedangkan pemukiman Arab berada di sekitar Empang.

Perkembangan selanjutnya pada tahun 1941, Buitenzorg resmi lepas dari Batavia. Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 11 Tahun 1886, No. 208 Tahun 1905 dan No. 289 Tahun 1924 menyebutkan, masa itu wilayah Bogor seluas 22 km persegi terdiri dari 2 sub distrik dan 7 desa. (Walaghara Kampoeng Bogor)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Sejarah Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s