BOGOR DI JAMAN KERAJAAN


Tersebutlah cerita tentang para raja yang pernah memimpin wilayah ini. Hiduplah mereka dengan segala pengaruh yang mereka jalankan pada masanya. Dari masa kejayaan sampai pada masa runtuhnya kerajaan. Di tempat kita berdiri saat ini, kemakmuran pernah dirasakan setiap penduduk yang tinggal. Kesejahteraan yang melanda dari setiap hasil bumi yang dikelola masyarakat, dibantu oleh para pejabat-pejabat pemerintahan yang berkuasa. Setiap orang taat dan patuh pada ajaran agama yang diyakini. Sehingga semua hidup rukun, damai dan sejatera pada sebuah masa yang pernah dicatat oleh sejarah. Masa kejayaan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang adil dan gagah berani. Dan semua itu pernah terjadi disini, Pakuan Pajajaran yang berada di Kota Bogor. Pada masa Pajajaran, dimana Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) menjadi seorang raja yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521), mengantarkan kerajaan mencapai puncak perkembangannya. Kejayaannya tidak hanya dikenang oleh masyarakat Pajajaran, tapi juga dicatat dan diingat betul oleh kerajaan-kerajaan lain dan oleh mereka yang tak pernah berhenti takjub akannya. Dari Carita Parahiyangan menyebutkan, “Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama”. Bahkan seorang Portugis sekelas Tome Pires pada masa-masa itu ikut mencatat kemajuan jaman Sri Baduga dengan komentar “The Kingdom of Sunda is justly governed; they are true men” (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur). Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab-pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam jaman Pajajaran. Sepeninggal Prabu Siliwangi, kejayaan Pajajaran yang berpusat di Kota Bogor ini diteruskan oleh Surawisesa yang merupakan putera Prabu Siliwangi dari Mayang Sunda yang juga merupakan cucu dari Prabu Susuktunggal. Carita Parahiyangan menuliskan Surawisesa dengan sebutan “kasuran” (perwira), “kadiran” (perkasa) dan “kuwanen” (pemberani). Selama 14 tahun memerintah ia melakukan 15 kali pertempuran. Tapi perkembangan kerajaan lain di sekitar Pajajaran juga berkembang pesat. Persekutuan Kerajaan Demak dan Cirebon, belum lagi pasokan peralatan perang meriam yang dimiliki Demak, membuat posisi Surawisesa dengan wilayah kekuasaannya semakin terdesak. Akhirnya Perjanjian damai dengan Cirebon memberikan peluang kepada Surawisesa untuk mengurus dalam negerinya. Setelah berhasil memadamkan beberapa pemberontakkan, ia berkesempatan menerawang situasi dirinya dan kerajaannya. Warisan dari ayahnya hanya tinggal setengahnya, itupun tanpa pelabuhan pantai utara yang pernah memperkaya Pajajaran dengan lautnya. Dengan dukungan 1000 orang pasukan belamati yang setia kepadanyalah, ia masih mampu mempertahankan daerah inti kerajaannya. Kondisi ini membuat Surawisesa terkenang akan kebesaran sang ayahanda. Rasa hormat akan mendiang ayahanda dan rasa bersalah akan kegagalan menjaga amanat yang diberikan kepadanya dalam menjaga keutuhan wilayah kekuasaan Pajajaran, kemungkinan mendorong Surawisesa untuk membuat sebuah sasakala (tanda peringatan) untuk sang ayah. Batu peringatan inilah yang kemudian disebut dengan prasasti Batutulis. Tertuliskan tentang karya-karya besar yang telah dilakukan oleh Susuhunan Pajajaran. Masa-masa Pajajaran terus bergulir, Surawisesa digantikan oleh puteranya, Ratu Dewata yang memerintah dari tahun 1535-1543. Berbeda dengan Surawisesa yang dikenal sebagai panglima perang yang perwira, perkasa dan pemberani, Ratu Dewata sangat alim dan taat kepada agama. Ia melakukan upacara sunatan (adat khitan pra-Islam) dan melakukan tapa pwah-susu, hanya makan buah-buahan dan minum susu. Atau yang saat ini lebih dikenal dengan Vegetarian. Sikap Ratu Dewata yang alim dan rajin bertapa, menurut norma kehidupan jaman itu tidak tepat karena raja harus “memerintah dengan baik”. Tapa-brata seperti yang dilakukannya itu hanya boleh dilakukan setelah turun tahta dan menempuh kehidupan manurajasuniya seperti yang telah dilakukan oleh Wastu Kancana. Kondisi kerajaan yang lengah, kemudian dimanfaatkan oleh Pasukan Banten untuk menyerang secara diam-diam. Menurut Carita Parahiyangan, pada masa pemerintahan Ratu Dewata ini terjadi serangan mendadak ke Ibukota Pakuan dan musuh “tambuh sangkane” (tidak dikenal asal-usulnya). Ratu Dewata masih beruntung karena memiliki para perwira yang pernah mendampingi ayahnya dalam 15 kali pertempuran. Sebagai veteran perang, para perwira ini masih mampu menghadapi sergapan musuh. Di samping itu, ketangguhan benteng Pakuan peninggalan Sri Baduga menyebabkan serangan kilat Banten (dan mungkin dengan Kalapa) ini tidak mampu menembus gerbang Pakuan. [Alun-alun Empang sekarang pernah menjadi Ranamandala (medan pertempuran) mempertaruhkan sisa-sisa kebesaran Siliwangi yang diwariskan kepada cucunya]. Karena ketidakmampuan memimpin kerajaan inilah, Ratu Dewata dicela oleh penulis Carita Parahiyangan dengan sindiran (kepada para pembaca), “Nya iyatna-yatna sang kawuri, haywa ta sira kabalik pupuasaan”. Yang artinya “Maka berhati-hatilan yang kemudian, janganlah engkau berpura-pura rajin puasa”. Rupa-rupanya penulis kisah kuno itu melihat bahwa kealiman Ratu Dewata itu disebabkan karena ia tidak berani menghadapi kenyataan. Penulis kemudian berkomentar pendek “Samangkana ta precinta” (begitulah jaman susah). Raja Pajajaran keempat adalah Ratu Sakti yang berkuasa pada kurun waktu 1543-1551. Jika Ratu Dewata bertindak serba alim, Ratu Sakti bersikap keras bahkan terkesan kejam dan lalim. Tidak banyak catatan dari Carita Parahiyangan yang melukiskan tentang raja ini. keterangan yang menyebutkan bahwa, banyak rakyat dihukum mati tanpa diteliti lebih dahulu salah tidaknya. Harta benda rakyat dirampas untuk kepentingan keraton tanpa rasa malu sama sekali. Kemudian raja ini melakukan pelanggaran yang sama dengan Dewa Niskala yaitu mengawini “estri larangan ti kaluaran” (wanita pengungsi yang sudah bertunangan). Masih ditambah lagi dengan berbuat skandal terhadap ibu tirinya yaitu bekas para selir ayahnya. Karena itu ia diturunkan dari tahta kerajaan. Ia juga tak kalah beruntung dengan Ratu Dewata, karena waktu itu sebagian besar pasukan Hasanuddin dan Fadillah dari Banten sedang membantu Sultan Trenggana asal Demak untuk menyerbu Pasuruan dan Panarukan. Nilakendra atau Tohaan di Majaya naik tahta sebagai penguasa Pajajaran yang kelima pada kurun waktu 1551-1567. Pada saat itu situasi kenegaraan telah tidak menentu dan frustasi telah melanda segala lapisan masyarakat. Carita Parahiyangan memberitakan sikap petani “Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan” (Petani menjadi serakah akan makanan, tidak merasa senang bila tidak bertanam sesuatu). Ini merupakan berita tidak langsung, bahwa kelaparan telah berjangkit. Frustasi di lingkungan kerajaan lebih parah lagi. Ketegangan yang mencekam menghadapi kemungkinan serangan musuh yang datang setiap saat telah mendorong raja beserta para pembesarnya memperdalam aliran keagamaan Tantra. Aliran ini mengutamakan mantera-mantera yang terus menerus diucapkan sampai kadang-kadang orang yang bersangkutan merasa bebas dari keadaan di sekitarnya. Seringkali, untuk mempercepat keadaan tidak sadar itu, digunakan minuman keras yang didahului dengan pesta pora makanan enak. Sebuah catatan menuliskan, “Lawasnya ratu kampa kalayan pangan, tatan agama gyan kewaliya mamangan sadrasa nu surup ka sangkan beuanghar”. (Karena terlalu lama raja tergoda oleh makanan, tiada ilmu yang disenanginya kecuali perihal makanan lezat yang layak dengan tingkat kekayaan). Selain itu, Nilakendra malah memperindah keraton, membangun taman dengan jalur-jalur berbatu (“dibalay”) mengapit gerbang larangan. Kemudian membangun “rumah keramat” (bale bobot) sebanyak 17 baris yang ditulisi bermacam-macam kisah dengan emas. Mengenai musuh yang harus dihadapinya, sebagai penganut ajaran Tantra yang setia, ia membuat sebuah “bendera keramat” (“ngibuda Sanghiyang Panji”). Bendera inilah yang diandalkannya menolak musuh. Meskipun bendera ini tak ada gunanya dalam menghadapi laskar Banten karena mereka tidak takut karenanya. Akhirnya nasib Nilakendra dikisahkan “alah prangrang, maka tan nitih ring kadatwan” (kalah perang, maka ia tidak tinggal di keraton). Dan sejak saat itu, Kota Bogor yang merupakan ibukota Pakuan telah ditinggalkan oleh raja dan dibiarkan nasibnya berada pada penduduk dan para prajurit yang ditinggalkan. Ditengah kekayaan yang tersisa dan ditengah ancaman para kerajaan lain yang hendak menguasai. Carita Parahiyangan kemudian menyebutkan, bahwa Raja Pajajaran yang terakhir adalah Nusya Mulya. Atau dalam naskah-naskah Wangsakerta ia disebut Raga Mulya alias Prabu Suryakancana yang berkuasa pada kurun waktu 1567 – 1579. Raja ini tidak berkedudukan di Pakuan, tetapi di Pulasari, Pandeglang. Oleh karena itu, ia disebut Pucuk Umun (Panembahan) Pulasari. Diperkirakan raja ini berkedudukan di Kaduhejo, Kecamatan Menes pada lereng Gunung Palasari. Menurut Pustaka Nusantara III/1 dan Kretabhumi I/2, “Pajajaran sirna ing ekadaca cuklapaksa Weshakamasa sewu limang atus punjul siki ikang Cakakala” (Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka). Yang Kira-kira jatuh pada tanggal 8 Mei 1579 M. Diberitakan juga dari Sejarah Banten akan keberangkatan pasukan Banten ketika akan melakukan penyerangan ke Pakuan dalam pupuh Kinanti yang artinya, “Waktu keberangkatan itu terjadi bulan Muharam tepat pada awal bulan hari Ahad tahun Alif inilah tahun Sakanya satu lima kosong satu”. Naskah Banten tersebut lebih lanjut memberitakan, bahwa benteng kota Pakuan baru dapat dibobol setelah terjadi “penghianatan”. Komandan kawal benteng Pakuan merasa sakit hati karena “tidak memperoleh kenaikan pangkat”. Ia adalah saudara Ki Jongjo, seorang kepercayaan Panembahan Yusuf. Tengah malam, Ki Jongjo bersama pasukan khusus menyelinap ke dalam kota setelah pintu benteng terlebih dahulu dibukakan saudaranya itu. Kisah itu mungkin benar mungkin tidak. Yang jelas justru menggambarkan betapa tangguhnya benteng Pakuan yang dibuat Siliwangi. Setelah ditinggalkan oleh raja selama 12 tahun, pasukan Banten masih terpaksa menggunakan cara halus untuk menembusnya. Dan berakhirlah masa Pajajaran yang hadir dalam kancah berdirinya kerajaan-kerajaan nusantara pada kurun waktu 1482-1579 dibawah masa para raja yang memimpinnya. Dari mulai raja yang bijaksana, sampai raja yang bertindak seenaknya. Dari yang mencintai dan melindungi rakyatnya, sampai pada raja yang berbuat keji terhadap rakyatnya. Ratusan tahun telah berlalu, dan masa para raja telah berakhir. Tapi hal ini merupakan cerminan bagi para pemimpin-pemimpin setelahnya. Ditengah kancah perpolitikan yang hadir saat ini. Dimana banyak orang berlomba untuk menjadi pemimpin kota dan wakil rakyat yang berkeinginan memperjuangkan nasib para masyarakat yang ada didalamnya. Semoga kita dapat memiliki pemimpin dan para wakil rakyat yang dapat membawa Kota Bogor ini kearah yang lebih baik.

Disusun oleh Ridha Ichsan dengan sumber, “Buku Sejarah Bogor Jilid I, Saleh Danasasmita”

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Sejarah Bogor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s